Bersatunya Pegiat Konservasi Owa dalam Pembentukan Forum ‘Jejak Owa’

Bogor, 21 Agustus 2025 – Sebanyak delapan lembaga konservasi di Indonesia bersepakat untuk memperkuat kolaborasi demi menyuarakan dan memperjuangkan kelestarian owa jawa (Hylobates moloch) melalui lokakarya bertajuk “Penguatan Kolaborasi Lembaga Konservasi Owa Jawa” yang digelar pada 19–21 Agustus 2025 di Science Techno Park IPB, Bogor.

Lokakarya ini diinisiasi oleh Yayasan Konservasi Ekosistem Alam Nusantara (KIARA), bersama Yayasan SwaraOwa dan Yayasan Inisasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), dengan dukungan berbagai mitra konservasi. Adapun lembaga lain yang terlibat yaitu, Yayasan Owa Jawa, Yayasan Cikananga Konservasi Terpadu, Sanggabuana Conservation Foundation, Paguyuban Petani Muda (PPM) Mendolo, serta The Aspinall Foundation Program Indonesia (TAF-PI).

Dalam lokakarya, setiap lembaga berbagi pengalaman, tantangan, serta harapan akan terbangunnya jejaring yang solid. Lokakarya ini berhasil menyepakati pembentukan Jejak Owa atau Jejaring Konservasi Owa Indonesia Regional Jawa, sebuah wadah kolaborasi yang akan menjadi ruang komunikasi, pertukaran data, penguatan kapasitas, serta perumusan strategi bersama dalam melindungi owa jawa.

Baca Juga: Owa Pengantar ke Surga dalam Budaya dan Kepercayaan Masyarakat Lokal Kalimantan Barat

Arif Setiawan, direktur Yayasan SwaraOwa menyebut lahirnya wadah baru bernama Jejak Owa sebagai salah satu capaian penting dari lokakarya.

“Dengan wadah ini, kita memiliki media komunikasi bersama untuk memperkuat kegiatan konservasi yang sudah dilakukan. Ini adalah kekuatan baru untuk melanjutkan dan memperluas dampak upaya konservasi owa di Indonesia,” terang Arif.

Senada dengan keterangan Arif, Rahayu Oktaviani, direktur Yayasan KIARA sebagai salah satu penggagas kegiatan menekankan tujuan strategis lokakarya ini.

“Lokakarya ini adalah ruang temu pertama untuk menemukan titik temu antar lembaga. Harapannya lahir sebuah wadah kolaborasi yang menguatkan konservasi owa jawa, baik insitu maupun eksitu. Bahkan, mimpi lebih besar kami adalah meluaskan kolaborasi untuk konservasi semua Owa di Indonesia.”

Kolaborasi Strategis untuk Menjawab Tantangan Konservasi

Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam menghadapi berbagai tantangan konservasi, mulai dari degradasi habitat, perburuan, hingga keterbatasan dukungan kebijakan. Dengan kekuatan kolektif, lembaga-lembaga konservasi berharap dapat menciptakan dampak lebih luas dan berkelanjutan.

Sebagai salah satu peserta lokakarya ini Bernard, dari Sanggabuana Wildlife Ranger, menekankan pentingnya pertukaran data dan pengetahuan lintas lembaga. 

“Kami baru saja melakukan sensus owa jawa di Pegunungan Sanggabuana dan mendapati sekitar 107 kelompok dengan 311 individu. Dengan terbentuknya forum konservasi ini, kami berharap bisa saling bertukar informasi, memperkuat jaringan, dan memberi masukan dalam kebijakan pemerintah terkait owa jawa,” tutur Bernard.

Dari perspektif masyarakat lokal, Cashudi (Hudi) dari PPM Mendolo, menyampaikan harapannya agar jejaring ini mampu mendukung peran masyarakat yang hidup berdampingan dengan habitat owa jawa.

 “Kami ingin mengajak masyarakat berpandangan lain terhadap konservasi. Semoga dengan adanya jejaring ini, kekuatan kami di Desa Mendolo semakin bertambah untuk menjaga habitat owa jawa,” pungkas Hudi.

1 thought on “Bersatunya Pegiat Konservasi Owa dalam Pembentukan Forum ‘Jejak Owa’”

Leave a comment

LAPOR

Jika kamu menemukan plagiasi pada karya ini, silakan laporkan dengan mengisi form berikut.

Untuk memperkuat verifikasi dugaan plagiasi, silakan menambahkan sumber berupa tautan atau tangkapan layar. Pelaporan tanpa sumber bukti yang kredibel tidak akan kami proses.

Maksimal 1 Mb