Sumber: gibbons.asia
Ilustrasi oleh: Noah R. N. Shepherd

Habitat owa adalah hutan dengan pepohonan yang tinggi. Mulai dari daerah tropis sampai subtropis, dari wilayah selatan Tiongkok hingga ke Indonesia bagian barat.

Mereka juga memerlukan hutan yang masih asri untuk bergelantungan (brakhiasi). Owa adalah satwa arboreal, yang artinya sebagian besar pergerakan mereka (mencari makan, bersosial, dan tidur) berada di pohon.

Meski owa bisa berjalan di tanah, tapi sebagian besar hidupnya bergelantungan di pepohonan.

Di Indonesia terdapat 7 spesies owa yang semuanya dilindungi hukum. Habitat owa tersebar di pulau Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.

Pulau Sumatera

Terdapat 4 spesies owa di pulau Sumatera, antara lain owa siamang, ungko, serudung, dan bilau. Owa siamang dan ungko menyebar secara luas di seluruh Pulau Sumatera.

Habitat owa serudung hanya terbatas di Nangroe Aceh Darussalam sampai bagian utara Sumatera Utara. Sedangkan owa bilau hanya hidup di Kepulauan Mentawai di Sumatera Barat.

Pulau Kalimantan

Menjadi pulau terluas ketiga di dunia, pulau Kalimantan menjadi habitat alami owa jenggot-putih dan kalawat.

Owa jenggot-putih dapat ditemui terbatas di Kalimantan Barat hingga berbatasan dengan sebagian Kalimantan Tengah.

Sedangkan owa kalawat mendiami wilayah paling luas, yaitu di Kalimantan Timur dan Selatan.

Berdasarkan penelitian terbaru, jenis owa kalawat terbagi menjadi dua spesies berbeda yaitu owa kelempiau barat dan kelempiau utara.

Pulau Jawa

Owa jawa merupakan satu-satunya jenis owa yang hidup di pulau Jawa. Persebarannya juga terbatas di hutan-hutan Banten, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.

Terdapat dua subspesies owa jawa, yaitu yang hidup di Jawa bagian barat dan Gunung Slamet di Jawa Tengah.

Subjenis owa di Jawa Tengah juga dapat ditemui di Pekalongan.

 

Faktanya Tidak Demikian

Meski habitat satwa ini tersebar di ketiga pulau di Indonesia, namun faktanya tidak semenggembirakan itu. Hutan di pulau-pulau yang menjadi habitat owa telah banyak yang telah beralih fungsi.

Alih fungsi hutan menjadi penggunaan lahan yang lain tentunya mengurangi wilayah jelajah owa. Padahal owa membutuhkan hutan yang luas untuk hidup.

Habitat owa sebenarnya berada di kantong-kantong hutan yang sempit karena adanya oleh adanya alih fungsi hutan. Dengan demikian, pergerakan dan keberlanjutan owa menjadi terbatas.

Peran pemerintah dan komitmennya untuk menjaga habitat owa sangat dibutuhkan di sini.