Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya konservasi satwa liar, pelepasliaran kerap dianggap sebagai tindakan mulia. Namun, melepaskan satwa liar tanpa perencanaan yang matang bisa berdampak negatif, bahkan mematikan bagi si satwa, lingkungan, dan manusia. Kira-kira kenapa ya?
- Ancaman bagi Satwa Itu Sendiri
Banyak orang beranggapan bahwa melepaskan satwa ke alam liar adalah bentuk pembebasan. Namun kenyataannya, satwa yang telah lama hidup dalam peliharaan tidak selalu siap kembali ke alam. Mereka kehilangan kemampuan untuk berburu, mengenali predator, atau bersosialisasi dengan kelompoknya. Akibatnya? Mereka bisa stres, tersesat, atau mati kelaparan.
Contoh nyata dapat dilihat dari kasus pelepasliaran seekor monyet ekor panjang yang telah dipelihara selama beberapa tahun, dan dibagikan oleh kreator TikTok bernama @maz_huda1. Dalam unggahan videonya, pemilik akun tersebut menjelaskan bahwa monyet yang ia pelihara ternyata telah berubah menjadi liar dan agresif. Tidak seperti saat awal dipelihara, seiring pertumbuhan usia, monyet tersebut justru menunjukkan perilaku yang semakin buas.

Monyet tersebut kemudian dilepaskan ke sebuah area yang masih dekat dengan permukiman, meskipun di sekitarnya terdapat pepohonan. Pelepasliaran dilakukan secara mandiri, tanpa proses rehabilitasi yang memadai, dan kehadiran kelompok monyet lainnya. Padahal, monyet ekor panjang tidak dapat dilepasliarkan sendirian mereka adalah hewan sosial yang hidup berkelompok. Jika dilepas tanpa kelompok dan proses adaptasi, hal ini justru berisiko menimbulkan konflik, baik dengan manusia maupun satwa lain di sekitarnya.
- Gangguan terhadap Ekosistem
Setiap ekosistem memiliki keseimbangan sendiri. Jika satwa liar yang dilepaskan bukan berasal dari habitat tersebut, ia bisa menjadi spesies invasif. Artinya, ia bisa mengganggu populasi satwa lokal, memicu persaingan makanan, hingga menularkan penyakit.
Salah satu contohnya adalah kasus ikan mas (ikan merah) yang dilepasliarkan di Danau Toba. Spesies ini bukan penghuni asli dan diketahui telah mengganggu ekosistem danau dengan mendominasi, serta mengancam populasi ikan endemik.
- Penyebaran Penyakit
Satwa hasil peliharaan sering kali membawa patogen yang tidak lazim ditemukan di alam liar. Ketika dilepaskan sembarangan, mereka bisa menularkan virus, bakteri, atau parasit pada satwa liar lain. Ini bisa menimbulkan wabah yang mengancam populasi alami.
- Ancaman bagi Manusia
Beberapa satwa liar bersifat agresif atau memiliki perilaku yang tak bisa diprediksi. Ketika dilepaskan di area yang dekat dengan pemukiman, potensi konflik dengan manusia pun meningkat. Seperti serangan, penyebaran penyakit zoonosis (penyakit dari satwa ke manusia atau sebaliknya), hingga kerusakan lahan pertanian bisa menjadi risikonya.

Salah satu contoh konflik antara manusia dan satwa liar terjadi di Desa Ketambe. Konflik ini dipicu oleh hilangnya habitat asli satwa liar, terbatasnya ketersediaan pakan di dalam hutan, serta keberadaan tanaman pangan favorit satwa liar di area pertanian masyarakat. Situasi semakin diperburuk oleh kecenderungan satwa liar untuk mencari sumber makanan baru di sekitar wilayah jelajahnya. Akibatnya, mereka kerap bermigrasi ke daerah yang memiliki sumber makanan melimpah dan bahkan berkembang biak di sana. Dataran rendah pun menjadi wilayah yang disukai, karena banyaknya lahan pertanian dan ketersediaan pakan.
- Gagalnya Tujuan Konservasi
Konservasi bukan hanya soal membebaskan satwa ke alam, tapi soal menjaga kelestarian mereka secara berkelanjutan. Tanpa prosedur pelepasliaran seperti uji kesehatan, habituasi, dan penilaian habitat, pelepasliaran bisa jadi bumerang. Satwa mati, lingkungan rusak, dan tujuan konservasi pun gagal.
Jadi, Bagaimana Seharusnya?
Pelepasliaran satwa harus melalui tahapan yang ketat dan sesuai prosedur. Tujuannya bukan hanya agar satwa bisa bertahan hidup di alam, tapi juga agar tidak mengganggu keseimbangan ekosistem yang sudah ada.

The Aspinal Foundation Indonesia Program
Beberapa prinsip yang wajib dipenuhi antara lain:
- Rehabilitasi dan adaptasi perilaku
- Pemeriksaan kesehatan dan karantina
- Studi kelayakan habitat
- Monitoring pasca pelepasliaran
Bagi kamu yang terlanjur memelihara satwa liar dan ingin melepasnya, sebaiknya tidak melakukannya sendiri. Serahkan satwa tersebut ke pihak berwenang seperti Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) terdekat. Petugas akan melakukan pemeriksaan dan rehabilitasi sebelum menentukan apakah satwa tersebut layak untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya secara aman dan bertanggung jawab.
Niat baik tidak selalu menghasilkan dampak baik jika tidak dilakukan dengan benar. Dalam kasus pelepasliaran satwa liar, ketidaktahuan justru bisa membahayakan. Maka dari itu, mari bijak dan bertanggung jawab dalam berkontribusi pada pelestarian alam.
Sumber:
- IUCN Guidelines for Reintroductions and Other Conservation Translocations. (2013).
- Soemarno, M., & Kartikasari, S. N. (2018). “Risiko Pelepasliaran Satwa Liar Tanpa Rehabilitasi: Studi Kasus di Taman Nasional Baluran”. Jurnal Konservasi dan Biodiversitas, 9(2), 120–130.
- Riska, dkk. (2023). “Kajian Konflik Masyarakat dengan Satwa Liar di Desa Ketambe Kabupaten Aceh Tenggara”. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian. 8(2). 620-625.