Tubuh kurus, hingga tulang tercetak jelas di kulit membuat owa kalawat (Hylobates muelleri) ini dijuluki Gollum layaknya karakter di film The Hobbit. Ia dievakuasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama Conservation Action Network (CAN) Borneo pada 1 Mei 2025. Setelah dievakuasi, Gollum berjuang pulih di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam.
Saat pertama kali diselamatkan, Gollum berperilaku tak wajar (abnormal). Mulai dari menggigit diri sendiri, menggelengkan kepala, hingga tidak mengeluarkan vokalisasi pagi. Gollum juga mengidap malnutrisi berat kala itu.
Tubuhnya kurus, sampai-sampai tulangnya terlihat jelas. Rambut yang seharusnya menutupi tubuhnya hampir habis tak bersisa. Gerakannya pun lamban, padahal owa dikenal sebagai satwa yang aktif dan gesit.
Gollum sebelumnya sempat menjadi satwa peliharaan. Mungkin maksudnya ingin menyayangi, namun dengan cara yang salah. Satwa liar seperti owa ini tidak cocok untuk jadi hewan peliharaan. Mereka butuh ruang bebas, pakan yang sesuai, dan lingkungan alami.
Kandang ayam yang Gollum tinggali selama dipelihara warga menjadi saksi betapa menyiksanya tinggal di tempat sempit dengan perawatan yang jauh dari kata layak.

Kabar Baik, Gollum Pulih Bertahap
Dilansir dari kaltimtoday.co, perkembangan Gollum kini menunjukkan arah yang lebih baik. Kini, kondisi Gollum menunjukkan perkembangan baik dan berangsur pulih. Tubuhnya terlihat lebih sehat, rambutnya mulai tumbuh kembali dan perilaku abnormal pun perlahan menghilang.
Direktur sekaligus Founder Conservation Action Network (CAN), Paulinus Kristanto, menjelaskan meski mengalami peningkatan berat badan dan pertumbuhan rambut, Gollum masih membutuhkan proses panjang sebelum benar-benar siap kembali ke habitat alaminya.
“Kepercayaan dirinya belum pulih sepenuhnya. Ia harus belajar lagi berinteraksi,” ujarnya.

Perjalanan Rehabilitasi Gollum Masih Panjang
Meski telah menunjukkan pemulihan, Gollum masih membutuhkan proses panjang sebelum benar-benar siap kembali ke habitat alaminya. Gollum akan dipindahkan ke pulau pra-rilis, sebuah kawasan semi liar yang menjadi tahap akhir dari proses rehabilitasi satwa. Disana, ia akan kembali membentuk perilaku alaminya bersama owa lain, sebagai langkah penting sebelum dilepasliarkan.
“Dengan kondisi yang perlahan membaik, Gollum kini menjadi simbol perjuangan pemulihan satwa sekaligus pengingat bahwa konservasi bukan hanya tugas lembaga, tetapi juga tanggung jawab bersama masyarakat,” pungkas Paulinus.