Asal Kata Owa dalam bahasa Inggris Akhirnya Ditemukan
Sebuah ilustrasi owa jantan dari Kedah yang dibawa ke Eropa bersama kata "gibbon" di arsip Perancis, 1755.

Rasa penasaran seorang peneliti mengenai asal kata gibbon (owa) dalam bahasa Inggris membawanya untuk ditelaah lebih lanjut.

Dr. Teckwyn Lim, baru-baru ini menulis artikel ilmiah berjudul “An Aslian origin for the word gibbon (Asal bahasa Orang Asli^ untuk kata owa)”.

Makalah itu dipublikasikan di jurnal linguistik Lexis yang berbasis di Prancis.

Dr. Lim adalah seorang dosen keanekaragaman hayati di Universitas Nottingham Malaysia.

Ia mengaku tertarik dengan bahasa Orang Asli Batek saat menjadi sukarelawan proyek konservasi harimau di Taman Negara 10 tahun yang lalu.

“Saat itu saya trekking di hutan, dan pemandu memberi tahu saya beberapa nama tumbuhan dan hewan dalam bahasa Orang Asli”, ujar Lim yang juga seorang konsultan lingkungan.

Pemandunya, Yam, mengajari beberapa kata dalam bahasa Batek misalnya bek (harimau), gagok (gajah), dan telabas (beruang).

Ia lalu mencatatnya dan berharap suatu hari bisa mengajarkan pada yang lain juga.

“Ketika saya membuka ulang catatan itu, saya ingat sesuatu yang menggelitik. Gibbon dalam bahasa Batek mirip dengan bahasa Inggris”, dalam wawancara melalui surel.

Ini agaknya mengusik apakah benar kata ini dipinjam dari bahasa Batek.

Saat ia melihat lema gibbon dalam Kamus Bahasa Inggris Oxford, ia menemukan bahwa kata ini telah digunakan sejak abad ke-18, meski asalnya tidak diketahui.

Ia akhirnya mencoba menyelisik bagaimana mungkin kata bahasa Batek diserap ke dalam bahasa Inggris.

Ia menggunakan kombinasi analisis linguistik, zoologi, dan sejarah. Ia mulai dengan menelaah kata-kata asli dari berbagai bahasa.

Dari beberapa kata, kebon adalah kata yang paling dekat kecocokannya dengan gibbon.

Selanjutnya, ia harus meneliti spesies owa mana yang pertama diperi oleh peneliti Barat.

“Akhirnya, saya harus menelaah apakah ada kemungkinan kata-kata ini dipinjam dari bahasa Batek ke Inggris 250 tahun yang lalu”, ujarnya.

Ia akhirnya menyimpulkan bahwa bukti-bukti ini mendukung bahwa gibbon berasal dari bahasa Orang Asli.

Lim yang memulai penelitian pada Maret 2019, mengatakan bagian menariknya adalah kata gibbon telah digunakan di Eropa pada 1755 bersama dengan dibawanya owa jantan dari Kedah sebagai peliharaan.

Lim memiliki ketertarikan pada owa. Ia suka bagaimana spesies itu membentuk kelompok keluarga yang erat dan selalu bernyanyi tiap pagi menjelang.

“Saya ingat bagaimana pertama kali mendengar nyanyian owa. Saya bertanya pada Yam suara hewan apakah itu”, ucapnya saat mendengar nyanyian owa.

Yam, seorang Orang Asli memiliki pemahaman mendalam terhadap tumbuhan dan satwa liar di hutan.

Oleh karena itu, ia merasa memiliki privilese untuk belajar sedikit bahasa asli Malaysia yang punya sedikit penutur dan tidak diajarkan di sekolah mana pun.

Lim berharap bahwa makin banyak orang yang tertarik dengan owa, sehingga makin banyak yang melindunginya.

Disadur dari: The Star

Catatan

^ Orang Asli adalah istilah di Malaysia yang merujuk kepada sejumlah kelompok etnis pribumi yang menghuni semenanjung Malaysia dan tidak digolongkan sebagai orang Melayu. Jumlah mereka adalah sekitar 140 000. Secara resmi, Orang Asli dibagi dalam tiga kumpulan, yaitu “Negrito”, “Senoi” dan “Proto-Melayu”. (Wikipedia)

Leave a Reply