Bertamu ke Habitat Owa di Alam, Yuk Pahami Etikanya!

Kawan Owa, pernahkah dengar soal wisata gibbon watching? Kalau belum, coba bayangin kamu lagi jalan menyusuri hutan yang sejuk diiringi sinar matahari lembut, sekaligus dengar suara owa yang menggema dari kejauhan. Nah, sekarang udah sedikit kebayang kan, Kawan Owa? Kalau kamu masih penasaran dengan experience aslinya, ada loh lembaga yang menyediakan tur gibbon watching seperti swaraowa (bersama Primavestour). Tur ini bisa ngajak kamu ngeliat alam dan kehidupan di dalamnya.

Ilustrasi hutan di pagi hari (Foto oleh Irene Semenova)

Sebenarnya apa sih kegiatan gibbon watching itu? Sederhananya, kegiatan ini mengajak pengunjung untuk mengamati owa liar secara langsung di habitat alaminya. Tentunya harus dipandu oleh para ahli yang sudah paham betul sama perilaku owa. Berbeda nih dengan wisata alam lainnya. Pengelolaan ekowisata Gibbon watching yang baik ternyata bisa jadi sarana efektif untuk mendukung konservasi, melindungi habitat alami owa, sekaligus membuka peluang ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat lokal.

Seperti yang udah disebutin sebelumnya nih, Kawan Owa. Kegiatan ini melibatkan satwa liar yang sensitif, jadi perlu pengamatan dengan cara khusus. Makanya, penting banget buat Kawan Owa paham etika-etika yang wajib diikutin saat ngamatin owa liar. Prioritas utama paling penting tetap kesehatan dan keselamatan pemandu, wisatawan, serta owa nya.

Supaya pengalaman bertamu ke habitat owa tetap aman dan bermanfaat, disimak yuk pembahasan di bawah ini.

Owa jawa (Hylobates moloch) di habitat alaminya (Foto oleh A. Baihaqi)

Persiapan sebelum berkunjung

1. Pastiin pemandu memahami dan mengikuti pedoman etika pengamatan owa liar. Ini penting untuk mengurangi risiko, baik bagi Kawan Owa maupun bagi perilaku dan kesehatan owa.

2. Pilih tempat yang mempromosikan kegiatan konservasi serta mendukung ekonomi masyarakat lokal. Pastiin juga dapat informasi cara meminimalisir dampak Kawan Owa sebagai wisatawan ketika melakukan pengamatan owa (seperti pakaian, sikap, dan risiko penularan penyakit). 

3. Apabila sedang sakit, jangan kunjungi owa. Hal ini untuk mengurangi risiko penularan penyakit dari manusia ke owa maupun sebaliknya (zoonosis).

Selama kunjungan di habitat alami owa

1. Apabila diminta mengisi kuesioner kesehatan, isi dan jawab pertanyaan dengan jujur. Langkah sederhana ini bisa jadi cara untuk memastikan tidak ada risiko penyakit yang bisa berpindah dari manusia ke owa.

2. Ikutin instruksi dari pemandu. Pastinya pemandu sudah ahli dalam mengetahui kondisi lapangan, jalur aman, dan cara jaga jarak aman tanpa mengganggu aktivitas owa. 

3. Gunakan baju warna netral untuk membatasi gangguan ke owa (seperti krem, hijau gelap, coklat, abu-abu, dan hitam) serta alas kaki tertutup supaya Kawan Owa tetap aman berjalan di lantai hutan yang penuh tantangan. 

4. Atur telepon genggam dalam mode senyap. Jangan keraskan suara dan batasi penggunaan flash ketika memotret, ya!

5. Kunjungi owa ketika sedang aktif di alam. Penelitian nunjukin owa umumnya aktif saat pagi hari. Nah untuk mencegah stress pada owa pas pengamatan, waktu pengamatan harus dibatasi maksimal 1 jam/hari.

6. Pakai masker pelindung yang baik saat berhadapan langsung dengan owa. Kawan Owa juga tidak diperbolehkan menyentuh owa. Namun, ada kemungkinan kalian akan bersentuhan dengan area di sekitar habitat owa. Selalu ingat untuk selalu membersihkan diri sebelum dan sesudah mengunjungi owa.

7. Jaga jarak setidaknya 7 meter dari owa (berusaha untuk menjauh dari owa apabila mereka mendekat).

8. Jangan ninggalin sampah di hutan. 

9. Hindari makan di dekat owa dan memberi makan ke owa supaya tidak memicu perilaku agresif owa.

Perencanaan yang hati-hati akan mengurangi risiko yang tidak diinginkan. Setelah paham dengan etika bertamu ke habitat owa, Kawan Owa juga turut memastikan suara merdu owa tetap menggema di hutan hingga masa yang akan datang. Setiap kunjungan yang bertanggung jawab menjadi bagian untuk menjaga hutan dan kehidupan.

Referensi:

IUCN SSC Primate Specialist Group. Rekomendasi untuk pengamatan owa yang bertanggung jawab, https://human-primate-interactions.org/wp-content/uploads/2023/07/rekomendasi-untuk-pengamatan-owa-yang-bertanggung-jawab.pdf 

Supriatna, J. 2022. Field Guide to the Primates of Indonesia. Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 155-184,  https://doi.org/10.1007/978-3-030-83206-3

Penulis: Khoirun Nisa Julianti 

LAPOR

Jika kamu menemukan plagiasi pada karya ini, silakan laporkan dengan mengisi form berikut.

Untuk memperkuat verifikasi dugaan plagiasi, silakan menambahkan sumber berupa tautan atau tangkapan layar. Pelaporan tanpa sumber bukti yang kredibel tidak akan kami proses.

Maksimal 1 Mb