Bayi akan diasuh oleh ibunya dengan penuh kasih sayang, tidak terkecuali owa si kera kecil penghuni hutan. Sejak lahir, bayi owa akan terus berada dalam dekapan induknya. Sang Ibu yang menyusui, melindungi, menghangatkan, hingga mengajarkan mereka cara bertahan hidup di rimbunnya hutan.
Ikatan emosional yang tak akan terpisahkan hingga si kecil bisa hidup mandiri. Di dekapan ibu owa, owa kecil diajarkan banyak hal. Salah satu kebiasaan yang butuh dipelajari dari induk owa adalah kemampuan bernyanyi. Sebelum mampu menghasilkan nyanyian khasnya, bayi owa baik jantan maupun betina perlu melalui proses belajar terlebih dahulu. Meskipun owa sudah punya bakat bernyanyi dari lahir, kemampuan ini harus terus dikembangkan seiring bertambahnya usia owa.
Seperti Apa Nyanyian Owa?

Owa terkenal karena suara nyanyiannya yang khas dan merdu. Lagu yang dinyanyikan oleh owa tersusun dari rangkaian nada yang teratur. Pada beberapa jenis owa, lagu akan dibawakan secara duet oleh pasangan jantan dan betina nya. Dalam duetnya, jantan dan betina saling bergantian bernyanyi dengan ritme yang pas sehingga lagu akan terdengar selaras. Menariknya lagi, masing-masing owa jantan dan betina memiliki karakteristik suara yang berbeda.
Owa betina memiliki bagian yang disebut dengan “great call”, bagian lagu ini memiliki rangkaian yang lebih panjang dan kompleks. Diva hutan banget nih ibu owa. Gimana kalau karakteristik suara owa jantan? Setiap owa jantan punya gaya lagu yang unik. Mereka menggunakan kombinasi dan frekuensi nada yang berbeda, baik di awal maupun di bagian utama nyanyiannya. Selain itu, setiap owa jantan memiliki urutan nada favoritnya sendiri saat bernyanyi. Jadi meski sama-sama owa jantan, lagu yang mereka bawain tetap memiliki ciri khas masing-masing.
Lagu yang dihasilkan oleh owa biasa didengar dan muncul di pagi hari dan berlangsung sekitar 10-30 menit. Nyanyian owa, terutama duet, sering digunakan untuk mempertahankan wilayah mereka untuk menunjukkan batas wilayah atau kondisi fisik mereka yang bugar. Maka dari itu, kemampuan bernyanyi owa harus dipelajari secara turun temurun.
Siapa yang Mengajari Anak Owa Bernyanyi?

Lagu owa khususnya nada pada bagian “great call” merupakan frasa paling original dari nenek moyang dalam daftar lagu keturunan owa. Kemampuan untuk menyanyikan lagu yang indah hanya bisa diperoleh pada tahap kehidupan yang lebih lanjut. Perbedaan karakteristik suara berdasarkan jenis kelamin akan muncul setelah melalui proses belajar dengan Ibu. Jadi, anak owa jantan dan betina di masa dewasanya akan memiliki nada dan lagu yang berbeda.
Pada anakan owa betina maupun jantan, mereka akan mulai bernyanyi bersama ibu sejak masih bayi. Les vokal bersama sang Ibu dimulai saat bayi owa berusia sekitar 7 bulan. Melalui interaksi sehari-hari, anak owa belajar mengembangkan kemampuan vokal dan perilakunya saat bernyanyi. Ibu owa akan menyesuaikan cara bernyanyinya ketika memiliki anak betina, seperti akan lebih sering bernyanyi supaya si anak dapat menirunya. Great call yang dihasilkan Ibu jadi semacam “pemicu” untuk memunculkan bakat bernyanyi anak-anaknya. Sehingga nyanyian ibu owa bukan sekedar alat komunikasi aja nih #KawanOwa, tapi juga jadi sarana belajar bagi anak-anaknya untuk mengenal, meniru, dan mengembangkan kemampuan vokalisasinya.
Baca juga: Modus Perdagangan Siamang Kini Manfaatkan Layanan Daring
Belajar sama Ibu Biar Siap Jadi Diva Hutan Selanjutnya
Lagu yang dinyanyikan bersama Ibu owa ini akan memainkan peran penting dalam perkembangan vokal anak betina. Dari sang Ibu, anak akan belajar menjaga ritme agar nyanyiannya bisa selaras, sekaligus menyempurnakan kualitas dan pola suara khasnya, terutama pada bagian great call. Seiring waktu, kemampuan vokal anak semakin berkembang hingga menyerupai nyanyian owa betina dewasa.
Eitss.. Sama seperti anak betina, anak jantan yang belum dewasa juga perlu berlatih bersama ibu. Anak jantan akan menyanyikan bagian lagu khas betina saat bernyanyi bersama Ibunya. Seiring dengan proses pematangan fisik dan seksual, remaja jantan beralih dari lagu yang mirip betina menjadi campuran bagian lagu yang mirip jantan dan betina.
Usia owa yang terus bertambah makin memperjelas perbedaan seringnya bernyanyi bersama ibu pada tiap jenis kelamin. Owa betina akan semakin sering bernyanyi bersama Ibunya, sedangkan saat kadar androgen yaitu hormon kematangan seksual jantan mulai meningkat, nyanyian jantan yang mirip dengan Ibu akan berkurang dan beralih ke nyanyian khas jantan dewasa.
Anak jantan mulai mengalami kematangan umur saat berusia 5 tahun, dan akan berlanjut setidaknya hingga berumur 7 tahun. Pada masa ini, jantan yang belum menginjak usia dewasa cenderung berada lebih dekat dengan ibunya, karena pada saat seperti ini, sang ayah akan bersikap lebih galak ke anaknya. Setelah berumur 8 tahun-an, anak jantan akan bernyanyi sendirian tanpa ditemani oleh anggota keluarga lainnya. Menariknya, meskipun mereka selalu mengeluarkan suara yang mirip betina saat bernyanyi bersama induknya sebelum usia 7 tahun, jantan muda justru mengeluarkan suara yang mirip jantan berupa nada “wa” sederhana saat bernyanyi sendirian setelah berusia 8 tahun.
Suara Matang, Tanda Owa Siap Bangun Keluarga Baru

Les bernyanyi diperlukan oleh owa sejak masa bayi hingga sepanjang masa pertumbuhannya mengingat struktur lagu owa yang rumit. Saat owa sudah dewasa dan bisa mandiri secara sosial, anak owa akan lebih jarang bernyanyi ataupun berduet dengan ibu mereka. Suara yang lebih matang, struktur susunan lagu yang rapih serta nada duet yang sudah sinkron jadi tanda owa siap bangun keluarga baru. Meskipun jantan muda lebih jarang bernyanyi bersama induknya, bernyanyi bersama tetap dapat membantu mereka menguasai beragam lagu jantan dewasa.
Wahh ternyata peran ibu sangat besar dan juga penting untuk pertumbuhan dan perkembangan owa supaya mereka bisa survive di alam. Lalu bagaimana jadinya kalau bayi owa dan ibunya terpaksa dipisahkan karena harus memenuhi suplai perdagangan ilegal? Untuk mengambil bayi owa, sang Ibu harus disingkirkan terlebih dahulu, karena ikatan emosional yang begitu kuat diantara keduanya. Di balik kasus-kasus pemeliharaan owa, ada kehilangan besar yang harus keluarga owa hadapin. Jadi, jangan jadikan owa sebagai peliharaan ya, #KawanOwa. Biarkan owa tetap hidup bebas bersama keluarganya di hutan.
Sayangi, Lindungi Owa
Ditulis oleh: Khoirun Nisa Julianti
Referensi:
Barelli C, Mundry R, Heistermann M, Hammerschmidt K. (2013). Cues to Androgens and Quality in Male Gibbon Songs. PLOS ONE 8(12): e82748. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0082748
Geissmann, T. (2000). Gibbon songs and human music from an evolutionary perspective. In: The origins of music. Wallin, N.; Merker, B. & Brown, S. (eds.), pp. 103-123, Cambridge, Massachusetts: MIT Press. ISBN 0-262-23206-5
Koda H, Lemasson A, Oyakawa C, Rizaldi, Pamungkas J, Masataka N. Possible role of mother-daughter vocal interactions on the development of species-specific song in gibbons. PLoS One. . (2013). Aug 12;8(8):e71432. doi: 10.1371/journal.pone.0071432. PMID: 23951160; PMCID: PMC3741147.
Koda, H. (2016). Gibbon Songs: Understanding the Evolution and Development of This Unique Form of Vocal Communication. In: Reichard, U., Hirai, H., Barelli, C. (eds) Evolution of Gibbons and Siamang. Developments in Primatology: Progress and Prospects. Springer, New York, NY. https://doi.org/10.1007/978-1-4939-5614-2_15
Yi, Y., Choi, A., Lee, S., & Ham, S. (2022). Transient co-singing of offspring and mothers in non-duetting Javan gibbons (Hylobates moloch). Fronties in Ecology and Evolution, August, 1–10. https://doi.org/10.3389/fevo.2022.910260