Pagi itu, hutan tempat kelahiran ku masih menjadi tempat tinggal yang kukenal.
Cahaya matahari menembus ranting dan dedaunan dengan lembut. Udara terasa sejuk, suara teman-teman burung juga masih terdengar jelas dari berbagai penjuru. Keluarga ku dan aku masih berkeliling hutan untuk mencari buah yang bisa kami santap.
Dengan kedua lenganku yang panjang, aku berayun melewati pepohonan. Aku adalah si owa kalimantan yang hidup jauh di atas tanah di antara pepohonan hutan Kalimantan. Manusia di sekitarku panggil aku kalawat, ada juga yang panggil penguak. Setiap hari kuhabiskan di atas tajuk hutan. Makan, bermain, beristirahat, dan bernyanyi bersama keluargaku.
Setiap hari hampir selalu sama. Rutinitas damai yang membuatku hidup dengan bebas mengarungi rimbunnya hutan. Tidak pernah terbesit di pikiranku bahwa suatu hari, semua itu bisa dengan mudahnya hilang. Bukan dari serangan predator yang menerkam, tapi karena tempat tinggal kami satu-satunya hangus dilalap si jago merah.

Asap Jadi Tanda Bahaya Datang
Bau asing menusuk tajam merasuk indra penciumanku. Dari kejauhan, terlihat asap tipis di antara pepohonan. Kami masih berada di atas pohon, mencoba mencari tahu darimana asal asap tebal itu.
Hutan mulai berubah. Suara-suara memekakkan telinga datang dari burung yang tadi berkicau merdu, ayah dan ibuku mengeluarkan panggilan keras sebagai tanda peringatan bencana yang akan datang. Tak lama, suara riuh tergantikan oleh suara ranting terbakar dan kepanikan penghuni hutan yang berusaha mencari tempat aman.
Aku berpindah lebih cepat.
Satu dahan. Lalu pohon berikutnya. Api terus menggelegar marah bergerak di belakangku.

Baca juga: Owa Kalawat (Hylobates muelleri)
Hutan Hangus Tak Bersisa
Pepohonan rimbun yang selama ini menjadi tempat berlindung kami, mulai terbakar. Daun menghitam lenyap hangus. Ranting-ranting patah. Semuanya perlahan berubah menjadi hitam legam, rapuh, dan runtuh.
Pohon buah favoritku, sulur gantung tempatku bermain, sampai batang tegak dan gagah yang menjadi tempat berlindung kami, semuanya hangus tak tersisa. Aku meringis menatap pilu. Hutan adalah tempat bergantung kami untuk tetap hidup.
Pohon-pohon tinggi jadi tempat kami bergerak. Tajuk pohon lebat menjadi tempat berlindung. Berbagai jenis tumbuhan dengan baik hati menyediakan makanan untukku. Teman-teman ku juga, bagaimana keadaan mereka? Apakah mereka selamat? Ku harap semuanya baik-baik saja.

Ketika Hutan Terbakar Habis, Kami Harus Kemana?
Tak bisa kubayangkan bagaimana dengan kukang yang pagi ini sedang tertidur lelap? Teman primata ku, bekantan dan orangutan, kuharap mereka bisa bergerak dengan cepat. Ayah dan Ibu ku berusaha keras melindungi seluruh keluarga ku supaya bisa keluar dari neraka ini dengan aman. Ku harap anak-anak kucing hutan dan rusa juga bisa selamat, lalu pengorbanan sang induk untuk melindungi mereka tidak sia-sia, kan?
Kami harus bergerak lebih jauh, sumber makanan disini sedikit sedang pohon-pohon di seberang sudah tak nampak lagi wujudnya. Akankah tempat tinggal dan tanah kelahiranku bisa kembali seperti sebelumnya?

Nestapa Jadi Satwa
Dari atas pepohonan, sejauh mataku memandang tidak lagi hijau seperti biasanya. Katanya, semakin banyak api yang terus menyebar dan muncul di berbagai penjuru daratan. Bukan hanya aku yang kehilangan tempat bernaung, banyak teman-teman penghuni hutan pun demikian. Bagaimana kami mencari cara untuk tetap bertahan, sementara semuanya sudah hangus menjadi abu? Â
Jangan Biarkan Habitat Kami Terbakar
Bagi sebagian manusia, membakar lahan itu cara termudah untuk membuka dan membersihkan lahan. Tanpa peduli ada kehidupan yang sangat bergantung di dalamnya. Bukankah kalian,manusia juga ikut merasakan dampaknya? Selama ini, tanpa kalian sadari hutan-hutan alami ini lah yang menopang kehidupan kalian.
Harapan ku, api bisa segera padam, hutan kembali pulih, dan semua nyawa yang bergantung pada hutan bisa kembali menemukan tempat untuk hidup dengan aman.
Ditulis oleh: Khoirun Nisa Julianti