Kawan owa, ada kasus menarik sekaligus mengkhawatirkan datang dari perilaku siamang. Dalam unggahan yang viral beberapa waktu lalu, siamang terlihat rutin berbagi ruang hidup dan sudah akrab dengan pemilik warung di sekitar perumahan warga. Menyentuh isu besar dalam konservasi; Ketika batas antara hutan dan pemukiman kian menipis. Pemberian makan kepada primata oleh masyarakat bisa didasari atas respons emosional seperti rasa iba. Mayoritas orang meyakini siamang sebagai makhluk yang hidup dalam kondisi sulit dan menghadapi kelangkaan makanan di hutan. Namun, apakah benar adanya seperti itu? Kawan Owa, kita kulik lebih dalam yuk!

Alasan kedatangan satwa liar siamang
Fenomena siamang ke pemukiman dan mampir ke warung warga menarik perhatian banyak orang. Namun, di balik momen yang tampak harmonis itu, ada kisah besar tentang hubungan manusia dan alam yang pelan-pelan berubah.
Dalam istilah konservasi, kebiasaan memberi makan satwa liar ini disebut provisioning. Menurut para ahli primata dari IUCN SSC Primate Specialist Group, provisioning merujuk kepada pemberian makanan kepada satwa liar yang melebihi ketersediaan atau kualitas sumber makanan alami di lingkungan mereka (Fa, 1986). Bagi siamang yang cerdas dan cepat belajar, satu pengalaman mendapat makanan bisa menjadi awal terbentuknya kebiasaan baru.
Menariknya, hubungan ini berlangsung dua arah. Ketika siamang semakin berani mendekat, manusia pun cenderung memberikan respons yang positif. Dari sini, pola provisioning semakin kuat, dan siamang semakin sering muncul ke area yang didominasi manusia seperti pemukiman maupun warung pinggir jalan.
Kondisi ini tidak lepas dari perubahan kondisi hutan. Aktivitas seperti penebangan dan konversi lahan memecah habitat alami siamang menjadi petak hutan kecil yang terisolasi. Ruang jelajah menyempit, kompetisi antar-satwa meningkat, dan pilihan pakan alami makin terbatas. Dalam tekanan seperti itu, siamang terpaksa keluar dari hutan dan memasuki ruang hidup manusia.
Deretan fakta interaksi antara manusia dan satwa liar
Banyak warga yang merasa senang ketika melihat satwa dilindungi ini mendekat ke rumah atau warung. Namun, ada hal penting yang perlu kita pahami bersama: kedekatan ini tidak selalu baik untuk mereka, dan juga tidak aman untuk kita.
Ada deretan dampak negatif dari interaksi manusia terhadap satwa liar. Mulai dari perubahan tingkah laku hingga persoalan kesehatan. Ketika siamang terlalu sering diberi makanan, mereka bisa kehilangan sifat liarnya, menjadi lebih berani, dan dikhawatirkan menjadi agresif saat tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan.
Pemberian makanan yang tidak sesuai kebutuhan alami siamang dapat menyebabkan masalah kesehatan, seperti obesitas atau gangguan pencernaan. Belum lagi risiko penularan penyakit dua arah (zoonosis).

Dalam beberapa kasus, kedekatan ini membuka peluang terjadinya perburuan dan penculikan anakan karena satwa menjadi lebih mudah didekati. Akhirnya, dengan mengubah perilaku, pola makan, dan pergerakan primata, provisioning secara tidak langsung mengubah suatu ekosistem bekerja.
Sorotan lainnya yaitu pemberian makan yang dilakukan di pinggir jalan. Praktik ini dapat menimbulkan konsekuensi yang luas, terutama jika terjadi di pinggir jalan raya. Perilaku siamang saat berinteraksi dengan manusia, ditambah dengan laju kendaraan yang tinggi, berisiko mengakibatkan cedera fatal baik bagi manusia maupun siamang.

Rupa dan Morfologi siamang (Symphalangus syndactylus)
Siamang memiliki ukuran terbesar dibanding spesies lainnya dalam keluarga Hylobatidae. Tubuhnya kokoh, berambut hitam panjang di bagian atas tubuh, serta dada yang lebar. Ciri khas lain dari siamang, berupa kantung suara (gular sac) dan selaput di antara jari-jari tangan dan kakinya (syndactyly).
Siamang punya vokal unik dan sangat nyaring dihasilkan dari kantung suaranya yang dapat mengembang. Suara ini digunakan sebagai alat berkomunikasi antarindividu dan antarkelompok. Maka, ketika siamang bersuara, dapat diartikan sebagai penanda teritorial dan pembagian wilayah antar kelompok serta komunikasi antar pasangan dalam satu kelompok.

Langkah baik yang harus mulai dilakukan
Mengubah kebiasaan pemberian makan bukanlah tugas yang mudah, terutama karena banyak orang menganggap memberi makan primata sebagai kegiatan yang mudah dilakukan dan tidak berbahaya. Perlu diketahui juga fakta bahwa siamang mampu bertahan hidup secara alami dan cenderung memakan bagian ujung daun ketika ketersediaan buah di alam terbatas. Niat baik memberi makan justru dapat mempengaruhi kemampuan alami mereka dalam mencari makan dan bertahan hidup.

Pada akhirnya, upaya mengurangi konflik antara manusia dan primata, termasuk siamang, memerlukan kolaborasi dari semua pihak. Kombinasi kebijakan hukum, edukasi publik, petunjuk teknis yang etis, dukungan finansial, serta pemantauan ilmiah merupakan langkah paling realistis untuk menjaga keseimbangan antara keselamatan manusia dan kesejahteraan satwa.
Disusun oleh: Khoirun Nisa Julianti
Referensi:
Harianto S P. 1988. Habitat dan tingkah laku siamang di calon Taman Nasional Way Kambas, Lampung (Bogor: Institut Pertanian Bogor)
IUCN SSC Primate Specialist Group. 2025. The official position statement of the IUCN SSC Primate Specialist Group regarding human provisioning of primates. https://human-primate-interactions.org/iucn-ssc-primate-specialist-group-position-statement-on-the-human-provisioning-of-primates/
Silaban, S et al. 2025. Studi Populasi siamang (Symphalangus syndactylus) di Blok Perlindungan Taman Wisata Alam Seblat Kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu. Journal of Global Forest and Environmental Science, 5 (1). http:/doi.org/10.31186/jgfes.05.01.116-124
Supriatna, Jatna et al. 2017. Deforestation of primate habitat on Sumatra and adjacent islands, Indonesia. Primate Conservation 31: 71-82.
Waters, Sian et al. 2025. How and Why People Provision Primates. Primate conservation, 39: 1-11.